Translate

Minggu, 18 November 2012

HUBUNGAN AKHLAK DENGAN IMAN DAN IHSAN



HUBUNGAN AKHLAK DENGAN IMAN DAN IHSAN
A.                Pengertian Ihsan
                 Nabi muhammad Saw. Menjalaskan tentang agama dalam satu kalimat ang sangat singkat, yakni ad-dien al-muamalah agama adalah interaksi. Interaksi yang dimaksud di sini adalah hubungan timbal balik antara manusia dengan Tuhannya. Islam datang membawa ajaran yang mengarahkan manusia memperbaiki hubungan antara semua pihak. Ihsan berarti baik atau berbuat baik. Menurut istilah Ihsan adlah keadaan seseorang dalam beribadat kepada Allah SWT. Seakan-akan dia melihat Allah dengan mata hatinya. Jika tidak melihat-Nya, maka dia yakin bahwa sesunguhnya Allah SWT. Senantiasa melihatnya. Dengan kata lain, Ihsan berarti suasana hati dan perilaku seseorang untuk senantiasa merasa dekat dengan Allah, sehingga tindakannya, perilakunya, sesuai dengan aturan dan urgen Allah SWT. 
Ihsan dalam arti akhlak mulia atau pendidikan akhlak mulia sebagai puncak keagamaan dapat dipahami juga dari beberapa hadis terkenal seperti “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi.” jika kita renungkan lebih jauh, sesungguhnya makna diatas itu tidak berbeda jauh dari yang secara umum dipahami oleh orang-orang muslim, yaitu bahwa dimensi vertikal pandangan hidup kita “iman dan taqwa habl mi al-Lah, dilambangkan oleh tabir pertama atau takbirat al-ihram dalam shalat” selalu, dan seharusnya, melahirkan dimensi horisontal pandangan hidup kita (amal saleh, akhlak mulia, habl min al-nas, dilambangkan olen ucapan salam atau taslim pada akhir shalat). Jadi makna-makna tersebut sangat sejalan dengan pengertian umum tentang keagamaan.
            Ihsan secara lahiriah melaksanakan amal kebaikan. Ihsan dalam bentuk lahiriah ini, jika dilandasi dan dijiwai dalam bentuk rohaniah batin akan menumbuhkan keikhlasan. Beramal Ihsan yang ikhlas membuahkan takwa yang merupakan buah tertinggi dari segala amal ibadat kita. Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan mauamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlak nya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasullah dalam salah satu hadisnya. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dan ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya. 
Landasan Syar’i Ihsan
Pertama, Al-Qur`anul Karim
            Dalam Al-Qur`an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Berikut ini beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.

“Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (QS An-Nahl: 90)
Kedua, As-Sunnah
            Rasulullah saw. pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Bahkan, di antara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan —ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan, “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik.” (HR. Muslim)

B.  Akhlak Sebagai Manifestasi Iman
            Iman dari segi bahasa biasa diartikan dengan pembenaran. Sebagian pakar mengartikannya sebagai pembenaran hati terhadap apa yang didengar oleh telinga. Pembenaran akal saja tidak cukup, tetapi yang terpenting adalah pembeneran dengan hati. Didalam islam tidak semua pembenaran dinamakan iman. Iman adalah membenarkan menyangkut apa yang disampai oleh Nabi Muhammad Saw. Sebagai mana yang tergambar dalam pokok-pokok dalam arkanul iman.
            Iman menjadi dasar untuk berperilaku bagi setiap insan yang mengaku dirinya muslim. Karena dengan iman seseorang akan merasakan adanya dzat yang Maha Halus dan Maha Mengetahui, yang tidak hanya menghindarkan orang dari bebuat jahat tapi juga memotifasi untuk berbuat baik. Derajat iman seseorang itu adlah tingkatan iman yang menunjukkan kebaikan perilaku seseorang yang dapat dilihat pada indikator-indikator yaitu: kecintaan terhadap perbuatan baik dan tidak senang dengan untuk berbuat buruk.

C. Keterkaitan antara aqidah dengan ahlak
 `          Aqidah atau keyakinan, dinamakan juga ilmu aqa,id (ikatan yang kokoh). Keyakinan kepada Allah SWT., harus merupakan ikatan yang kokoh yang tidak boleh lepas atau dibuka begitu saja, karena akan berbahaya bagi umat manusia. Orang yang tidak memiliki ikatan yang kokoh dengan Tuhan, menyebabkan ia dengan mudah tergoda dengan ikatan-ikatan lainnya yang membahayakan.
Keterkaitan aqidah dengan akhlak dapat dilihat melalui beberapa pandangan sebagai berikut
1. Dilihat dari segi objek bahasanya,aqidah membahas masalah Tuhan,baik dari sagi  Zat,sifat dan perbuatannya.kepercayaan yang mantap kapada Tuhan menjadi landasan untuk mengarahkan amal perbuatan manusia sehingga perbuatan manusia menjadi ikhlas dan keikhlasan ini merupakan bentuk akhlak yang mulia.

Allah SWT berfirman:
Yang artinya:
”Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan kataatan kapada-Nya dalam (menjalankan)agama yang lurus,dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S Al-Bayyinah:5)

2. Dilihat dari fungsinya aqidah menghendaki agar seseorang tidak hanya cukup dengan                       menghafal rukun iman dan dalil-dalilnya saja, tetapi yang terpenting adalah agar orang bertauhid itu meniru dan mencontoh terhadap subjek yang terdapat dalam rukun iman itu. Jika kita percaya bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang mulia, maka sebaiknya manusia bertauhid meniru sifat-sifat itu. Allah SWT bersifat ar-rahman dan ar-rahim, maka sebaiknya manusia meniru sifat tersebut dengan mengembangkan sifat kasih sayang di muka bumi. Demikian juga jika Allah bersifat dengan asma’ul husnah yang jumlahnya 99, maka asma’ul husnah tersebut harus dipraktekkan dalam kehidupan. Dengan cara demikian beriman kepada Allah akan memberpengeruh terhadap pembentukan akhlak.
            Beriman kepada malaikat dimaksudkan agar manusia mencontoh sifat-sifat yang terdapat pada malaikat seperti sifat jujur, amanah, tidak pernah durhaka dan patuh melaksanakan segala yang diperintahkan Tuhan. Percaya kepada malaikat dimaksudkan agar manusia merasa diperhatikan dan diawasi oleh para malaikat, sehingga tidak berani melanggar larangan Allah. Dengan percaya kepada malaikat membawa kepada perbaikan akhlak yang mulia.

Allah berfirman :
Yang artinya:“Malaikat-malaikat yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.at-tahrim:6 )
            Beriman kepada kitab khusus Al-qur’an, maka secara akhlaki harus diikuti denganupaya menjadikan Al-qur’an sebagai wasit, hakim serta imam dalam kehidupan. Dengan cara demikian iman kepada kitab erat kaitannya dengan pembinaan akhlak yang mulia. Demikian juga beriman kepada para rasul khususnya nabi Muhammad Saw, harus disertai dengan mencontoh akhlak rasulullah dan mencintainya. Mengikuti dan mencintai rasulullah dinilai sama dengan mencintai dan menaatinya. Dengan cara demikian beriman kepada rasul akan menimbulkan akhlak yang mulia, hal ini dapat diperkuat lagi dengan cara meniru sifat-sifat yang wajib para rasul yaitu sifat shidiq (jujur), amanah (terpercaya), tablig (menyampaikan ajaran sesuai perintah Allah), dan fathonah (cerdas). Jika semua itu dicontoh oleh manusia yang mengimaninya maka akan dapat menimbulkan akhlak yang mulia, disinilah letaknya hubungan antara akhlak dengan aqidah.
            Demikian pula beriman kepada hari akhir, dari sisi akhlak harus disertai dengan upaya menyadari bahwa segala amal perbuatan yang dilakukan selama didunia ini akan dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat nanti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih